Tampilkan postingan dengan label Ku_Bagush. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ku_Bagush. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Januari 2016

(Calon) Mahasiswa Robot

Ini bukan tulisan saya. Juga bukan pengalaman saya. Namun tulisan ini dari pengalaman si penulis yang tercantum namanya di bawah tuliasan. Bagus dan menarik buat kamu-kamu yang mau lanjut dari SMA/MA/SMK se derajat yang mau kuliah. Atau buat kamu yang udah kuliah tapi masih bingung dengan status kemahasiswaanmu. Jadi tulisan ini cocok buat ngisi #CatatanSeorangHabib. Selamat membaca

=================================

Beberapa waktu yang lalu, saya datang ke SMA saya dulu untuk sosialisasi kampus ke anak-anak kelas XII. Mengingat saat itu sudah mendekati waktunya SNMPTN, para siswa jelas perlu referensi tentang universitas secara langsung dari mahasiswanya. Selsaya alumni, saya jelas ingin membantu menyosialisasikan kampus tempat saya menuntut ilmu pada mereka.

Sampai, di salah satu kelas, muncullah pertanyaan paling mainstream yang biasa hinggap di benak para siswa kala menentukan jurusan kuliah, yang ditujukan pada saya: Prospek kerja Teknik Nuklir apa?

Saya sudah menduga pertanyaan seperti ini pasti akan muncul. Maka, sebelum saya jawab pertanyaannya, saya balik bertanya dulu ke para siswa: Tujuan kalian kuliah itu untuk apa? Mencari kerja? Atau menimba ilmu untuk diaplikasikan?

Lalu, saya membuat skema di whiteboard, yang menggambarkan pilihan para siswa ketika kuliah nanti. Yang pertama soal kuliah untuk mencari kerja. Secara singkat, saya langsung menggambarkan yang seperti itu akan dibentuk sebagai robot pelayan kapitalis. Kuliah dengan gencar, mengejar IP Cum Laude, lulus cepat, kerja di perusahaan bonafid, dapat gaji besar, hidup enak. Selesai. Hidupnya cuma seperti itu. Sederhana, dan menyedihkan. Saya menjelaskan lagi, bahwa yang begini cuma mikir mau enaknya saja, egois. Yang penting gue punya kerjaan enak, gaji gede! Masa bodoh kalo perusahaan tempat gue kerja itu perusahaan asing yang udah puluhan tahun mengeruk kekayaan alam negeri ini! Misalnya C*h*e*v*r*o*n (sensor).

Mahasiswa yang begini, waktu itu saya jelaskan, yang jadi kepanjangan tangan para kapitalis untuk makin leluasa merampok SDA Indonesia dan robot pelayan setia mereka, yang rela melakukan apapun untuk menyenangkan bosnya. Dan mereka jadi salah satu faktor juga, kenapa dunia riset dan perkembangan saintek Indonesia tidak maju-maju. Lah wong mikirnya kerja tok. Ilmu yang didapatkan pas kuliah? Masa bodoh!

Barangkali ini juga alasan kenapa banyak yang setelah lulus kuliah, lantas kerja di tempat yang tidak sesuai bidangnya. Engineer kerja di bank? Itu engineer sial. Hahaha.

Beda lagi waktu saya menggambarkan skema tentang mahasiswa yang mencari ilmu untuk kemudian diaplikasikan. Yang begini kugambarkan akan menunjang budaya riset dan pemberdayaan. Lalu, dengan didukung birokrasi yang sehat (yang sayangnya, hal ini masih cuma mimpi di Indonesia), maka akan terbentuk perkembangan saintek yang pesat, ditambah abundance of knowledge (keberlimpahan ilmu) akan semakin kaya. Kalau hal ini didukung faktor-faktor lain yang berkaitan, misalnya ideologi, ekonomi, politik, kebijakan luar negeri, dan sebagainya, maka hal ini akan berujung pada kesejahteraan. Nah, bukannya ini yang selama ini diharapkan?

Sekalian saya ingatkan sedikit soal pesan Rasulullah SAW, bahwa “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya.”. Dengan kata lain, ilmu yang didapatkan waktu kuliah jangan cuma dimakan buat sendiri. TIdak ada gunanya. Kalau diaplikasikan untuk kepentingan orang banyak, itu jauh lebih bermanfaat. Saya pernah menemukan kalimat ini, meski lupa siapa yang mengatakan: Harta itu akan habis ketika digunakan, tapi ilmu itu akan habis jika ditahan.

Dengan agak keras, saya ingatkan juga bahwa kuliah jangan hanya dihabiskan untuk mencari kerja saja. Sia-sia waktu 4 tahun (bisa lebih, bisa kurang) dihabiskan hanya untuk hal seperti itu. Uang mungkin bisa kembali, tapi tidak dengan waktu dan pengalaman yang mungkin didapat di dunia perkuliahan.

Pada intinya, opini di kalangan siswa saya arahkan supaya jangan memperrumit persoalan negeri ini dengan kuliah hanya untuk mencari kerja. Dengan kata lain, saya arahkan supaya mereka meluruskan niat, kuliah itu demi menuntut ilmu dan kemudian diamalkan. Baru setelah itu, saya jawab singkat soal kemana Teknik Nuklir bisa mengaplikasikan ilmunya, sambil mengaitkan dengan penjelasan tadi.
***

Memang, saya khawatir ketika melihat fenomena ‘prospek kerja’ ini. Kuliah dinilai dari prospek kerja, seolah prospek kerja itu adalah dewa yang harus diagung-agungkan. Yang prospek kerjanya dianggap bagus, misalnya Kedokteran atau Akuntansi, banyak diserbu. Sebaliknya, yang prospek kerjanya dianggap minim, misalnya Sastra Jawa atau Filsafat, yang minat paling berapa orang? Dan itu tipikal, terjadi terjadi setiap tahun. Tidak terkecuali, para siswa yang (barangkali) agak sadar diri dengan kemampuannya yang tidak begitu bagus, lalu bertanya di sebuah grup facebook, soal “Jurusan apa yang peminatnya sedikit tapi prospek kerjanya luas?”

(yang begitu saya jawab saja There’s no such thing as ideal in this world. Tidak ada yang ideal di dunia ini)

Apalagi menjelang pendaftaran calon mahasiswa baru. Ratusan ribu siswa SMA dari seluruh negeri berebut ingin menduduki ‘kursi panas’ perkuliahan di PTN-PTN ternama. Dan mulailah, mereka bergerilya mencari jurusan yang akan mereka masuki, sebagian dengan masih sangat bingung dan minim visi. Sebagian ada yang memang udah lurus pemahamannya dengan mencari jurusan yang mereka minati ketimbang ‘prospektif’. Tapi, mayoritas masih lebih memikirkan soal prospek kerja. Masuk jurusan ini prospek kerja dimana? Kalau jurusan itu? Jurusan bla bla bla? Tipikal. Tidak sepenuhnya salah, memang, tapi ya jangan berlebihan juga obsesinya itu.

Sampai-sampai, lucu juga pas saya dengar pemaparan adik kelas, bahwa salah satu perwakilan kampus yang menyampaikan masalah prospek kerja dengan berapi-api, bahwa prospek kerjanya sangat luas, termasuk bisa kerja di bank sekalipun. Saya tidak tahu itu kampus apa, tapi yang jelas mentalitas para mahasiswanya menyedihkan.

Menurut Dr. Nopriadi, pendidikan sekarang memang men-tuning para siswa untuk menjadi job seeker. Pencari kerja. Beda dengan medio 90-an, yang mana mahasiswa masih memegang peran penting dalam dunia perpolitikan dan propaganda, meski saat itu Indonesia berada dibawah rezim diktator-opresif Soeharto. Kualitasnya juga, yang lulusan medio 90-an masih lebih bermutu ketimbang lulusan sekarang.

Para mahasiswa dan calon mahasiswa dibuai dengan yang namanya IPK tinggi. Lulus cepat. Kerja di perusahaan asing bergaji tinggi. Semua itu dianggap bergengsi. Keren. Pendidikan diatur sejak dini bahwa tujuan akhir dari pendidikan itu mencari kerja. Sekalipun banyak retorika-retorika soal tujuan pendidikan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa bla bla bla, tapi kenyataannya tidak demikian. Bahkan anak SMP pun bisa jadi mikir kalau kuliah itu buat mencari kerja. Nothing else.

Akibatnya, mahasiswa, kaum intelektual yang harusnya menjadi corong perubahan, penyeru revolusi, pengawas kinerja pemerintahan dengan idealisme tinggi, sukses dibungkam. Ilmu yang dituntutnya ketika kuliah, yang seharusnya bisa digunakan untuk kepentingan orang banyak, cuma berakhir sebagai deretan nilai di Ijazah, yang dipajang sampai berdebu di tembok ruang tamu. Mahasiswa jadi mati. Mereka bertransformasi jadi robot-robot yang akan melakukan apapun demi kepentingan para kapitalis asing. Kontribusi mereka terhadap umat jadi minim, kalau bukan tidak ada. Dan hal ini sudah dibentuk sejak lama, jauh sebelum para siswa ‘naik tingkat’ jadi mahasiswa.

Pendidikan negeri ini sudah sukses didoktrin oleh negara imperialis asing untuk menghasilkan tenaga kerja murah demi keberlangsungan perusahaan-perusahaan multinasional. Gaji yang diterima para sarjana tidak sebanding dengan keuntungan perusahaan-perusahaan itu atas eksploitasi asing terhadap negeri ini, baik terhadap SDM maupun SDA. Indonesia telah tunduk pada skema kaum imperialis dalam masalah pendidikan, setelah di sisi lain seperti ekonomi, politik, sosial budaya, kebijakan luar negeri, hukum, telah diinjak-injak terlebih dahulu. Negeri ini sudah dipermainkan, seperti wayang yang pasrah dikendalikan oleh dalang.

Dalam skala mikro, barangkali meluruskan persepsi para calon mahasiswa bisa dilsayakan, supaya merea kelak tidak terbentuk jadi robot-robot pelayan kapitalis. Tapi, dalam skala makro, apa itu cukup? Jelas tidak. Perlu perubahan mendasar dalam skema pendidikan, dengan pemikiran yang out of the box. Namun, hal itu tidak akan bisa dilakukan selama frame berpikirnya masih dalam bingkai berpikir kapitalisme. Artinya, perlu ada perubahan sudut pandang. Menjadi sudut pandang apa? Tentunya sudut pandang Islam.

Islam tentu punya mekanisme pendidikan sendiri, yang jelas keunggulannya. Secara umum, Islam mendidik siswa dan mahasiswa bukan hanya pandai dalam urusan saintek, tapi juga dalam aspek ruhiyah. Mereka dibentuk bukan hanya jadi ilmuwan, tapi juga jadi ‘alim ‘ulama. Mencari ilmu karena Allah, dan mengaplikasikannya demi mendapat keridhaan Allah. Mentalitas demikian dibentuk sejak kecil, didukung oleh sistem-sistem lain yang saling berkaitan, misalnya politik, ekonomi, dan sosial budaya. Dengan mekanisme-mekanisme yang saling berkaitan ini, siswa dan mahasiswa dibentuk bukan menjadi robot pelayan kapitalis, tapi menjadi manusia unggul dunia-akhirat yang berguna demi kepentingan orang banyak.

SIstem ini jelas tidak mungkin diaplikasikan saat ini, sebab sistem yang berasal dari bingkai berpikir beda jelas tidak mungkin masuk. Dengan kata lain, sistem yang ada saat ini perlu dirombak secara mendasar. Ideologi kapitalisme, yang sukses menjajah negeri ini pada bidang pendidikan, perlu disingkirkan dan diganti dengan ideologi yang tepat untuk sistem pendidikan Islam, yaitu ideologi Islam itu sendiri. Ideologi Islam yang menyeluruh dalam setiap aspek peradaban tidak akan membiarkan siswa dan mahasiswa memiliki mental untuk menjadi kepanjangan tangan perusahaan pengeruk SDA negeri ini untuk semakin menancapkan kukunya.

Revolusi Islam menjadi sebuah keniscayaan untuk tegaknya kembali sistem ini. Tentunya, hanya mahasiswa dan calon mahasiswa yang tidak bermental robot saja yang bisa menyerukan revolusi ini. Nah, dimana posisi kita?

=================================
(Andhika Dwijayanto; Penulis Gaulfresh, Novelis “The Story of Renza”)

Sabtu, 20 Juni 2015

AQIDAH ASAS BERFIKIR

Gara2 inget ilmu dr teman 2 thn lalu, mk coba sy tulis ingetan sy. Smg sj bsa brmanfaat. :)

¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤

Percaya atau tdk setiap dr kita akan melakukan suatu amal perbuatan berdasarkan pemahaman yg kita miliki.

Misal: bila kita disodori sebuah flashdisk tentu kita akan langsung bisa menerka benda itu namanya flashdisk, fungsinya utk menyimpan data, cara pemakaiannya bagaimana, dsb. Namun, apa jadinya bila flashdisk tsb diberikan pada anak usia 1thn. Apa yg akan dia lakukan dg benda itu? Bisa jd flashdisk akan mjd benda tak berguna baginya. Olehnya bisa saja akan dibuat mainan, dimasukan mulut, dibuang, dipukul-pukulkan, dsb.
Knp bisa begitu? Krn ya seperti itulah dia memahami benda tsb.
Dan jelas, sangat berbeda dg kita dlm memahami benda tsb shg krn pemahaman kita dn anak tsb brbeda mk, perbuatan yg kita lakukan tentu juga akan brbeda dgnya.

Pemahaman adlh kepercayaan yg trlahir dari apa yg kita indera thd sesuatu dan segala ke-khas-annya atau kepercayaan lain yg terpancar dr penginderaan tsb.

Dan pemahaman itu sendiri dpt dibedakn mjd 2:
1.) pemahaman ttg sesuatu /mafahim anil asyya'
2.) pemahaman ttg kehidupan/ mafahim anil hayat

1.) pemahaman ttg sesuatu /mafahim anil asyya'
adlh kepercayaan atau hukum2 yg didapat dr menjadikn suatu benda tsb sebagai objeknya.
Sama seperti anak usia 1 thn tadi dia memahami bahwa flashdisk adlh mainan, bukan sesuatu yg penting ataupun berharga baginya. Sama juga seperti kita memahami bhw api itu (sifatnya) mmbakar, racun itu (sifatnya) membunuh, miras itu (sifatnya)  memabukan, pisau itu (sifatnya) memotong. Sama juga kayak tanah tak bisa dimakan, daging bisa dimakan.
Adapun benar/tdknya benda tsb diatas disesuaikn atau tergantung dari fakta yg dimiliki benda tsb.

2.) pemahaman ttg kehidupan/ mafahim anil hayat
adlh kepercayaan/hukum2 yg objeknya ada "diluar" sesuatu tsb.
Seperti tadi, sebagaimana kita memahami bhwa flasdisk adlh benda yg sangat berharga krn bisa menyimpan data ini dan itu. Darimana kita bisa tau bhw benda tsb bisa menyimpan data? Tentu kita dapat info dari luar, diluar objek (flashdisk) tsb. Kita mungkin tahu bhw flashdisk itu seperti ini, fungsinya begini, penggunaannya begini, dll dari sekolah, les, teman ataupun yg lain. Yg jelas bukan dari melihat dan mengamati objek tadi.
Sama juga spt kita memahami sholat itu fardhu, puasa ramadhan itu fardhu, menipu itu haram, miras itu haram, membunuh (tanpa alasan syar'i) itu haram, membegal itu haram, dsb.
Hukum2 ini bkn berasal dr sesuatu atau perbuatan itu sendiri. Tetapi, berasal dr hukum "sesuatu yg lain", diluar tadi. Ada sesuatu yg lain yg menetapkannya mjd hukum.

Perhatikan permisalan berikut,
*KHAMR*
a.) kita bisa katakan bhwa khamr itu memabukkan, dan memabukkn adlh sifat yg ada pd khamr itu sendiri secara dzatnya. Dan itu adlh hukum yg ada didlm khamr itu sendiri atau dg kata lain sesuatu yg ditimbulkan darinya, mafahim anil asyya' (pemahaman thdp sesuatu)
b.) kita bisa katakan juga bhw khamr itu haram. Dan "haram" sbgmn yg kita pahami brsama bhw haram bukanlah hukum (yg timbul) dari dlm dzatnya melainkan dari Allah SWT. Terserah Dia mau meng-haram-kan khamr ataupun me-mubah-kannya krn Dia adalah yg berhak membuat dan menetapkan hukum.
Maka, sangat jelas bahwa perbuatn manusia juga terikat kpd pemahaman ttg kehidupan(mafahim anil hayat) pula.

dari penjelasn ttg KHAMR diatas maka dlm masalah DAGING BABI misalnya. Maka kita bisa menarik kesimpulan sbb:
*DAGING BABI*
a.) Mafahim anil asya'nya: bisa mengenyangkan
b.) Mafahim anil hayat: daging babi itu haram, tdk boleh dimakan meski secuil. Dan kemudian kita mewajibkn diri kita agr mnjauh darinya. Bhkn melihatnya kita lgsg membuat diri kita jijik dg barang najis itu.

Maka apabila berjumpa dg hukum tsb (haram) dan kita membenarkannya, Mk pada saat itu kita telah memiliki pemahaman (yakni, pemahaman ttg kehidupan).
Dan pemahaman ini akan mencegah kita dr memakan daging babi (hanya) utk membuat perut kita kenyang.

Mk, sangat jelas bahwa perbuatan manusia itu selalu terikat kpd mafahim anil hayat dan mafahim anil asyya'.

Oleh krn itu saudaraku. Bila kita akan melakukn suatu perbuatan mk, kita jgn asal grusa-grusu perhatikan dulu apakah hal tsb diperbolehkan atau dilarang oleh Allah SWT. Mari, jadikan aqidah islam sbg asas berfikir, sblm kita melakukn suatu perbuatan.
Mana yg diperintahkan segera kerjakan, mana yg dilarang tinggalkan. Jgn sampai kita terbiasa melakukan hal2 yg justru bermaksiat kpd Allah.

Mari kita menghukumi fakta dg dalil, jgn menjadikan fakta sbg dalil.
Bukan berarti bila semua manusia dibumi ini membenarkan suatu perbuatan lantas  perbuatan tsb serta merta diperbolehkan.
Sama spt sholat jum'at. Bukan berarti krn banyak lelaki muslim yg tdk menjalankn lantas hukumnya adlh mubah,
Bukan berarti bila semua manusia setuju pacaran lantas pacaran hukumnya mubah,
Bukan berarti juga bila banyak org tdk berpuasa ramadhan lantas hkm puasa ramadhan mjd mubah.

Ingat, yg membenarkan dan menyalahkan adlh Allah SWT. Masih ingetkan bhw kita punya misi di planet ini. Jgn sampai misi kita gagal hanya krn ketidak-mau-tahuan kita dlm menjalani khdpn ini.
Setiap perbuatan kita akn di hisab olehNya. Krn itu mari jadikn aqidah islam sbg asas berfikir. Jgn sampai esok hr kita mjd menyesal hanya krn kita tdk mau benar didlm berfikir.

Ingatlah! Standar perbuatan kita semuanya, benar-salah, halal-haram smuanya sudah diatur oleh Allah SWT. Masih ingat ikrar kita dlm setiap sholat kita bhw semua yg kita lakukan hanya utkNya, utk taat kpdNya, bukan mendustakanNya? Smg saja ikrar tsb tak cuma manis di lisan saja. . . . Inna sholati wa nusuki wa mah yaya wa mamati lillahi rabbil aalamiin.

Saudaraku, sblm mengakhri ketikan keypad di hape sy. Ijinkan saya mengajak tmn2 semua. Mari kita renungkan sejenak sabda rasulullah riwayat Al Bukhari, "Tdk akan melakukn perbuatan zina seorg pezina hingga ia berzina sdgkn ia dlm keadaan mukmin. Seorg peminum khamr tdk akn meminum khamr sdgkn ia dlm keadaan mukmin. Seorg pencuri tdk akan mencuri sdgkn ia dlm keadaan mukmin. Seorg perampok tdk akn merampok barang2 berharga yg mampu membuat pandangan manusia terangkat sdgkn ia dlm keadaan mukmin."

Mhn maaf, bila ada yg salah. Sekian. Terima kash.

=================================
oleh: Aziz Rohman.
Copas dari group Ku_Bagush Gaul Fresh

Rabu, 17 Juni 2015

JADILAH PEMUDA PEJUANG UMAT

=========================

Tahukah adek-adek sejak manusia lahir di muka bumi hingga detik ini pemuda  itu sebagai pelopor dalam segala hal? Bacalah sejarah, maka melihat berbagai perubahan yang terjadi di setiap bangsa ada pemuda sebagai penggeraknya. Bertanyalah pada guru-gurumu maka menemukan bahwa setiap transformasi sosial, motor utamanya adalah pemuda. Jika diibaratkan sang surya, maka pemuda bagaikan sinar matahari yang berada pada tengah hari dengan terik panas yang menyengat.

Besarnya potensi dan kecenderungan, pemuda ini maka dengan pemuda tentu bisa mengarah negara pada kebaikan. Tapi tidak hanya pada kebaikan, namun pemuda juga bisa menggiring pada kejahatan dan hancurnya sebuah bangsa.

Dengan melihat carut-marutnya bangsa saat ini, maka patutlah Anda sebagai sebagai pemuda muslim segera berubah menjadi pemuda-pemuda yang hebat. Pemuda seperti yang yang dikatakan umar bin khatab bahwa, setiap kali Umar menghadapi masalah-masalah besar maka yang dicari pertama adalah pemuda-pemudanya. Pemuda seperti yang dikatakan bapak proklmator  bahwa jika diberikan 10 pemuda maka akan menguncang dunia. Juga seperti pemuda zaman Rasulullah yang berani mengorbankan segalanya demi menegakkan Islam.

Bukan malah menjadi pemuda pemuda muslim yang terpuruk. Yang keberadanya justru membuat masalah bangsa ini. Bukan pemuda yang jauh Al-Quran dan masjid. Bukan pemuda yang malas belajar Islam. Apalagi menjadi korban model dan ide Barat yang kini sudah meracuni kehidupan pemuda seperti hedonisme, pluraslime, liberalisme, dlll

Sadarlah wahai pemuda. Manfaatkan masa muda untuk berkarya. Berkarya untuk agama sehingga Islam kembali pada periode emas seperti pada zaman Rasulullah Saw. Dengan cara mengerahkan seluruh kekuatan masa muda untuk kemenangan Islam.

Contohlah pemuda-pemuda Islam terdahulu. Bukan mencontoh artis-artis idola. Contohlah Az Zubair bin Awwam. Seorang pemuda teman diskusi Rasulullah SAW.  Seorang pemuda yang juga menjadi  anggota pasukan berkuda. Sehingga dikenal sebagai  tentara  pemberani. Padahal usianya baru 15 tahun.

Contohlah juga Sa’ad bin Abi Waqash. Seorang ksatria berkuda Muslimin paling berani di saat usianya baru menginjak 17 tahun. Seorang pemuda pemanah terbaik. Sahabat utama yang pertama kali mengalirkan darahnya untuk Islam. Lelaki yang disebut Rasulullah saw sebagai penduduk surga. Contohlah pemuda seperti Usamah bin Zaid. Seorang pemuda  yang ikut berjuang sejak usia usia 12 tahun. Pemuda tangguh dan muslim yang kuat. Tidak heran Rasulullah saw menunjuknya sebagai panglima perang di usianya yang ke-20 dan memimpin armada perang menggempur negara adikuasa Romawi.
Serta masih banyak pemuda-pemuda pejuang yang harusnya menjadi contoh pemuda masa kini. Misalnya yang terkenal adalah Thariq bin Ziyad, muhammad Al Fatih,  dll.

Mari tunjukanlah pada dunia bahwa pemuda masa kini juga bisa berkarya nyata dan berjasa bagi bangsa, negara, dan agama. Dengan cara apa? Belajarlah Islam  dimasjid-masjid, ikutilah pembinaan agama secara intensif minimal satu minggu sekali, lalu dakwahkanlah  ilmu yang kalian dapatkan pada sahabat-sahabatmu.

Dunia membutuhkan pemuda muslim, sebab  umat Islam saat ini sangat terpuruk. Jangan ikut menambah masalah umat, tapi jadilah pemuda yang memberikan solusi. Oleh karena itu saat ini mari bergabung dengan kelompok dakwah yang memperjuangkan kembalinya Islam. Dengan itu kamu menjadi pemuda hebat yang sekaligus jadi pioner perubahan yang menggemparkan dunia dan tentu akan dibalas oleh Allah Swt dengan surga_Nya. Allahu Akbar...!!!

=================================

Copas dari ARTIKEL Ku_Bagush (Komunitas Baca Gaul Fresh) #RefreshYourMind

Penulis : La Ode Munafar (Owner Gaul Fresh)

Jumat, 05 Juni 2015

IMAN PADA NABI DAN KONSEKUENSI DARI IMAN

IMAN PADA NABI
Artikel (sebelumnya) sudah berpikir lebih mendalam mengenal Allah Swt. Sekarang kita berpikir kembali mengenal sumbe hukum kita yaitu Al-Qur’an.  Jika kita masih ragu terhadap Al-Qur’an, maka bagaimana bisa percaya terhadap syariah Islam itu benar. Mana mungkin kita percaya bahwa shalat itu wajib jika kita tidak mempercayai Al-Qur’an, mana bisa kita percaya bahwa riba itu haram, mana mungkin kita percaya bahwa memotong tangan pada pencuri itu wajib.
Maka sebelum berpikir memecahkan segala permasalah umat Islam, maka penting untuk membuktikan  kebenaran Al-Qur’an hingga tidak ada lagi keraguan. Sehingga saat mencari solusi permasalahan pun harusnya dari Al-Qur’an juga.
Lalau bagaiman bisa membuktikan al-quraan itu benar hingga tidak ada lagi keraguan? Mari kita bahas dengan berpikir. Kita akan mlihat beberapa kemungkinan sumber Al-Quran, yaitu ada tiga kemungkinan.
1) Kitab itu karangan orang Arab
2)Karangan Muhammad SAW
3)Berasal dari Allah SWT
Selain 3 kemungkinan tersebut, tidak ada lagi kemugkinan selain ketiga ini. Sebab Al-Qur’an adalah berciri khas Arab, baik dari segi bahasa maupun gayanya. Tentu tidak mungkin bahwa Al-Qur’an itu dibuat oleh orang Indonesia. Maka 3 kemungkinan ini cukuplah bisa meyakinkan 100% tentang kebenaran Al-qura’an.
Kemungkinan pertama, yang mengatakan bahwa Al-Qur’an  adalah karangan orang Arab tidak dapat diterima. Sebab Al-Qur’an sendiri menantang mereka untuk membuat karya yang serupa. Firman Allah SWT :
“Katakanlah: Maka datangkanlah sepuluh surat yang dapat menyamainya”(TQS. Hud [11]: 13 ).
Di dalam ayat lain
“Katakanlah: (Kalau benar apa yang kamu katakan), maka coba datangkan sebuah surat yang menyerupainya” (TQS. Yunus [10]; 38 ).
Orang-orang Arab berusaha keras mencobanya akan tetapi tidak berhasil. Hal ini membuktikan bahwa Al-Qur’an bukan berasal dari perkataan mereka. Mereka tidak mampu membuat karya yang serupa.    

Kemungkinan kedua, menyatakan bahwa Al-Qur’an itu karangan Muhammad SAW, juga tidak dapat diterima akal. Sebab Muhammad SAW adalah orang Arab juga. Bagaimana pun ia tetap manusia pula yang menjadi salah satu anggota dalam masyarakat atau bangsanya. Selama bangsa Arab tidak mampu membuatnya maka, dapat diterima akal bahwa  Al-Qur’an  itu bukan karangan Muhammad SAW, karena jelas tidak seorang pun dari bangsa Arab tidak mampu membuat karya yang menyerupai  Al-Qur’an.
Terlebih lagi banyaknya hadist-hadist shahih yang yang berasal dari Muhammad SAW yang sebagian malah diriwayatkan lewat cara yang mutawatir yang kebenarannya tidak diragukan lagi. Apabila setiap hadist ini dibandingkan dengan ayat manapun dalam Al-Qur’an, maka tidak akan didapatkan yang kemiripan dari segi bahasanya. Padahal Nabi Muhammad SAW, disamping selalu membacakan setiap ayat-ayat yang diterimanya, dalam waktu yang bersamaan juga mengeluarkan Hadist. Namun ternyata keduanya tetap berbeda dari segi gaya bahasanya. Karena tidak ada kemiripan antara gaya bahasa Al-Qur’an dengan Hadist.
Maka jelas bahwa Al-Qur’an itu bukan perkataan Nabi Muhammad SAW, karena masing-masing keduanya terdapat perbedaan yang tegas serta jelas.
Itulah sebab tidak seorang pun dari bangsa Arab yang paling tahu gaya dan sastra bahasa Arab menuduh bahwa Al-Qur’an itu perkataan Muhammad SAW, atau mirip dengan gaya bicaranya.
Adapun satu-satunya  tuduhan yang mereka dilontarkan bahwa Al-Qur’an itu disadur Muhammad SAW dari seorang pemuda Nasrani yang bernama Jabr. Tuduhan itu ditolak keras oleh Allah SWT.  Dalam firman-Nya.

“(Dan) Sesungguhnya Kami mengetahui mereka berkata: Bahwasanya Al-Qur’an itu di ajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad). Padahal bahasa orang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya(adalah) bahasa ‘ajam (non arab), sedangkan Al-Qur’an itu dalam bahasa arab yang jelas”(TQS. An-Nahl [16]:103)

Apabila telah terbukti bahwa Al-Qur’an itu bukan karangan bangsa Arab dan bukan karangan Muhammad SAW, berarti tidak ada lagi kemungkinan selain kemungkinan yang ke 3 yaitu Al-Qur’an adalah kalamullah, yang menjadi mukjizat bagi yang membawanya.
Sehingga kita mengenal secera istilah bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT. Yang dturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, sebagai mukjizat disampaikan dengan jalan mutawatir dari Allah SWT melalui perantara malaikat Jibril. Al-Qur’an murni dari Allah SWT bukan dari hawa nafsu Nabi Muhammad SAW. Juga berisikan tentang aturan kehidupan manusia,  dan menjadi pedoman hidup bagi manusia yang sholeh dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Karena terbukti bahwa Al-Qur’an berasal dari Allah Swt maka secara otomatis secara aqli kita bisa menyimpulkan bahwa Nabi Muhammad SAW, adalah sebagai Rasul utusan Allah Swt. Maka segala yang disunahkan oleh Rasul haruslah haruslah kita menerimanya.

==================================
Copas dari ARTIKEL Ku_Bagush (Komunitas Baca Gaul Fresh)
Penulis : La Ode Munafar (Owner Gaul Fresh)

IMAN KEPADA ALLAH SWT

Artikel (sebelumnya) sudah membahas mengenai pentingnya berpikir. Lalu apa yang harus dipikirkan umat Islam saat ini? Kali ini ka Ode mengajak berpikir hal yang paling mendasar yaitu tentang keimanan kita khususnya iman kepada Allah swt. Ini sangat penting apalagi kita sebagai anak muda yang udah GeDe harus segera sadar diri. Perkara ini juga telah diingatkan oleh imam Syafii. Beliau berkata: Ketahuilah bahwa kewajiban pertama seorang mukallaf adalah BERPIKIR, dan mencari dalil untuk Makrifat kepada Allah Ta'ala .

Karena pemecahan iman kepada Allah yang kurang sempurna inilah, umat Islam saat ini masih banyak yang dimurtadkan. Sering menemukan hanya gara-gara sekolah gratis bisa menukar akidahnya. Hanya gara-gara rumah gratis langsung bisa mau berpindah agama. Bahkan hanya gara masalah jodoh atau mie instan mau saja menukar akidahnya.

Melihat permasalahan tersebut maka umat Islam kiranya penting memecahkan kembali hal pokok dalam kehidupannya ini yaitu mengenal Allah Swt. Sebab jika hal pokok saja tidak terpecahkan dengan benar, mana mungkin memikirkan umat lainnya.
Lalu bagaimana agar umat islam bisa memecahkan akidahnya dengan benar? Tidak lain dengan cara berpikir. Inilah yang membedakan maksud tulisan ka Ode kali ini dengan pemahaman akidah sebelumnya yang adek-adek dapatkan di bangku pendidikan. Selama ini dalam memahami akidah waktu SD, SMP, SMA, hingga kuliah cuma diajarkan apa itu iman kepada Allah secara defenisi atau hanya semacam hafalan saja. Tapi jarang sekali diajarkan berpikir kenapa harus beriman kepada Allah Swt dengan cara berpikir. Seandainya manusia itu bisa memecahkan dengan cara bepikir inilah akidah yang kuat

Padahal jika kita juga berpikir dengan baik dan benar maka kita akan menemukan bukti keberadaan Allah Swt secara pasti. Dan sungguh sangat bisa seperti ini, sebab kita sebagai manusia memiliki panca indera, bisa melihat fakta alam semesta, manusia, dan kehidupan. Kita akan melihat bahwa ke 3 benda tersebut membutuhkan yang lain.

Coba berpikir. Misalnya  saja saat kita memadang alam semesta khususnya bumi. Bumi bergerak selalu pada porosnya, tidak pernah bergeser sedikit pun. Tidak bertabrakan dengan tata surya dan benda alam semesta lainnya. Para ilmuwan mengatakan seandainya bumi ini bergerak 1 mil saja mendekati matahari maka tidak ada kehidupan di bumi sebab bumi sangat panas. Akan tetapi jika bumi menjauh 1 mil saja dari kehidupan maka tidak ada lagi kehidupan manusia dimuka bumi. Sebab isi bumi semua akan membeku. Dengan berpikir maka tentu kita bisa yakin bahwa alam semesta benar-benat diciptakan Allah Swt

Hal lain jika kita melihat makhluk hidup lainnya. Lihat saja kucing misalnya. Seandainya kucing kita sudah dicabut nyawanya Allah Swt maka walau kamu sampai nangis darah pun kita tidak bisa menghidupkan kucing. Sama halnya manusia. Usia kita paling sekitar 60 tahun. Lebih dari itu kita anggap saja bonus. Tidak ada manusia yang abadi, bahkan setingkat manusia yang mendapat gelar manusia terbaik di muka bumi ini yaitu Nabi Muhammad Saw tidak bisa hidup abadi.

Oleh karena itu,  dengan mengamati lebih dalam lagi tentang alam semesta, manusia dan kehidupan maka sebenarnya kita bisa menyimpulkan pasti ada penciptanya. Disinilah kita bisa mengenal Allah Swt melallui proses berpikir dengan menggunakan akal kita atau dikenal dengan istilah dengan dalil aqli.

Namun tidak berarti bahwa iman kepada Allah itu hanya didasarkan pada dalil yang bersifat aqli saja. Sebab dalam Al-Qur?an pun sesungguhnya kita diperintahkan Allah begitu banyak dalil naqli yang menjelaskan keberadaan Allah Swt. Seperti dalam  al-Qur?an Surat Al-Hadid ayat 3:

Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Dalil lain

Dia mengatur urusan langit dan bumi, kemudian (urusan) itu naik kepada-Nya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.?(QS. As Sajadah:5)

Dengan menggambungkan dalil aqli dan naqli ini, maka harusnya kekuatan keyakinan kita kepada Allah Swt harus benar-benar mendalam. Tidak ada lagi keraguan kepadanya hingga kita benar-benar yakin bahwa Dialah Allah Swt yang telah menciptakan alam semesta, manusia, dan kehidupan.

========================================
Copas dari ARTIKEL Ku_Bagush (Komunitas Baca Gaul Fresh
Penulis : La Ode Munafar (Owner Gaul Fresh)

PENTINGNYA BERPIKIR

??????????????????????

Tahu nggak? Seandainya seluruh isi muka bumi ini dihancurkan, pepohonan ditumbangkan dan gedung-gedung diratakan maka manusia masih bisa membangun yang lebih hebat lagi dari yang sebelumnya asalkan mau berpikir. Begitu dahsyatnya kekuatan berpikir, maka tidak mengherankan ratusan ayat Al-Qur?an meminta manusia untuk berpikir. Lantaran hebatnya berpikir sampai jutaan buku motivasi di dunia mengajak manusia untuk mengubah pemikirannya  dahulu sebelum sukses.

Tidak diragukan lagi memang berpikir hal yang penting bagi manusia. Bahkan yang membedakan manusia dengan makhluk lain sampai manusia disebut makhluk sempurna karena manusia adalah makhluk berpikir. Artinya jika manusia tidak berpikir akan sama dengan mahkluk hidup lainnya tanpa gelar kesempurnaan.

Tidak hanya itu, kak Ode sering mengatakan bahwa sungguh kita adalah apa yang kita pikirkan. Jika manusia berpikir dirinya rendah maka rendahlah dia. Jika manusia berpikir tidak bisa, maka tidak bisalah dia. Jika manusia berpikir lemah, maka lemahlah dia. Jika manusia berpikir pecundang, maka pecundanglah dia, dan seterusnya. Sebagai contoh jika manusia berpikir tidak bisa menulis, maka akan ada 1000 alasan yang dia lakukan untuk tidak mau menulis. Sehingga sampai kapanpun ia tidak akan jadi penulis. Sebab pintu pikirannya sudah tertutup untuk tidak mau mencari cara supaya menulis. Namun, jika dia berpikir mau menulis maka akan ada 1000 cara yang dia lakukan agar bisa mau menulis. Tidak hanya dalam masalah menulis, tapi masalah pekerjaan-pekerjaan lain pemikiran manusia sangat menentukan apakah ia bisa atau tidak.

Bahkan dalam masalah mendasar bagi manusia yaitu akidah, sang Pencipta meminta manusia berpikir dan berpikir. Sebab dengan berpikir manusia akan mengerti sendiri bahwa pencipta itu ada dan manusia sadar sebagai makhluk ciptaan. Dengan berpikir ini pulalah akidah manusia bisa kuat tertanam dalam hati, yang selanjutnya sulit tercabut walau ada tekanan dari pihak luar. Sebagaimana akidahnya nabi Ibrahim yang berpikir saat melihat bintang, bulan, matahari, dan bumi yang menyimpulkan bahwa benda-benda itu bukan tuhannya. Juga seperti akidahnya  para sahabat nabi, yaitu Bilal bin Rabbah walau ditindis dengan batu besar di dadanya tidak melepaskan akidahnya.

Wajar Allah SWT dalam beberapa ayat meminta manusia untuk berpikir:

"Apakah mereka tidak memperhatikan unta, bagaimana ia diciptakan? Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung, bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi, bagaimana ia dihamparkan?"  (Al-Ghasyiyah 17-20).

Ayat di atas, hanya satu dari ratusan ayat Allah Swt yang mengajak manusia untuk berpikir dalam memecahkan akidahnya. Coba bayangkan jika manusia tidak berpikir memecahkan akidahnya maka dia menjadi manusia yang ikut-ikut aja dalam beragama. Ikut karena orang tuanya muslim atau karena tinggal dilingkungan muslim. Jika tidak berpikir, hanya karena ikut-ikutan saja maka dengan gampang ia dimurtadkan. Hanya karena sekolah gratis akan mau menukarkan akidahnya, bahkan hanya karena sebungkus mi instan mau menukarkan akidahnya.

Pentingnya berpikir, bisa kita perhatikan juga negara-negara yang pernah maju dan sedang maju di dunia ini. Terlepas dari benar dan tidaknya pemikiran mereka, tapi coba lihat negara Rusia pernah maju dengan pemikirannya yaitu pemikiran yang bersifat materialisme. Atau dunia mengenal Rusia dengan pemikiran sosial-komunisnya. Lihat juga sekarang Amerika yang maju dengan pemikirannya, yaitu pemikiran kapitalismenya. Termasuk Islam dulu juga pernah maju dengan pemikiran Islam.

Maka jelas bahwa bahwa majunya seseorang termasuk majunya sebuah negara karena orang-orangnya berpikir bukan dari orang yang ora mikir (tidak mikir). Sayangnya begitu banyak manusia saat ini tidak berpikir atau berpikir tapi cuma setengah-setengah. Lebih parah lagi saat berbuat hanya menggunakan perasaannya atau cuma ikut-ikutan saja tanpa berpikir. Jika seperti ini jangan harap Anda sebagai individu menjadi orang yang sukses. Jangan harap pula jika anda sebagai negawaran mampu membawa negara ini menjadi maju, sebab berpikir adalah hal yang paling pokok dan mendasar - Yuk Refresh Your Mind

==================================
Copas dari ARTIKEL Ku_Bagush (Komunitas Baca Gaul Fresh)
Penulis : La Ode Munafar (Owner Gaul Fresh)

Diberdayakan oleh Blogger.