Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Mei 2016

KISAH SAHABAT UKASYAH

Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum meninggal.
Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi.  beliau sangat lemah.
Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendapat taushiyah dari Rasulullah SAW.

Beliau duduk dengan lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sahabat2 ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu2nya Tuhan yang layak di sembah?"
Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, " Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu2nya Tuhan yang layak disembah."
Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
"Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka."
Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.
Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."
Ketika itu semua sahabat diam, dan dalam hati masing2 berkata "Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah".
Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.
Tiba2 bangun seorang lelaki yang bernama UKASYAH, seorang sahabat mantan preman sebelum masuk Islam, dia berkata:
"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".
Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".
Maka Ukasyah pun mulai bercerita:
"Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".
Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."
Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."
Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian.
Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pada Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah, bukankah Baginda sedang sakit..!?"
Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.
Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"
Bilal menjawab dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah"
Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:
"Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".
Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua".
Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah.
Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah.
Tiba2 Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil
berkata: "Ukasyah..! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".
Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".
Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:
"Ukasyah..! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku..!."
Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".
Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, tiba2 berdiri Ali bin Abu Talib sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.
Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah".
Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah" .
Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah. Tiba2 tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen.
Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon. "Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dengan memukul kami sesungguhnya itu sama dengan menyakiti kakek kami, wahai Paman."
Lalu Rasulullah SAW berkata: "Wahai cucu2 kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dengan Paman Ukasyah".
Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata:
"Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini."
Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:
"Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"
Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah.
Tanpa berlama2 dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.
Kemudian Rasulullah SAW berkata:
"Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih2an. Nanti Allah akan murka padamu."
Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh2, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi2nya,
Ukasyah berkata:
"Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu.
Seumur hidupku aku bercita2 dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka.
Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah..."
Rasulullah SAW dengan senyum berkata:
"Wahai sahabat2ku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!"
Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat
bergantian memeluk Rasulullah SAW.
Meski sudah sering membaca dan mendengar kisah ini berulang-ulang, tetap saja kita menangis.
Semoga tetesan air mata ini membuktikan kecintaan kita kpd Rasulullah saw.

Dicopast dari group WA "FTI"

Kamis, 31 Maret 2016

April Mop? Stop Tipu-tipu ya


Selamat pagi, selamat menikmati tanggal baru di bulan yang baru. Yups, bulan April namanya.
Ada yang menarik di bulan April. Tapi apakah benar bulan ini menarik? Bisa iya bisa tidak.
Tanggal 1 April dikenal dikalangan dunia atau lebih populer sebagai April Mop atau April's The Fool Day. Atau lebih gampangnya, bulan bodoh. Emang bulan bisa ngomong? Kog bisa bodoh? #jadi ribet deh
Jadi gini ceritanya, di bulan ini ada semacam budaya wajib khususnya di dunia barat. Bahwasannya setiap tanggal 1 April orang-orang disana boleh tuh menjahili teman-teman mereka agar menjadi bodoh. Pembohongan, penipuan, jail, dan semacamnya dianggap lumrah alias wajar di hari ini. Bahkan jika kita bicara serius, justru dianggap bohong. Makanya di bulan ini orang mendadak saling jail dan kepercayaan akan sesama menjadi kecurigaan. Kenapa demikian? Karena ini April Mop. Orang gx mau kelihatan bodoh. Lebih baik membodohi daripada dibodohi.
Lantas benarkah yang mereka lakukan? Jelas salah. Ingat, sejak kecil, TK, SD sampai sekarang kita selalu diajari jujur. Pepatah bilang "orang jujur pasti mujur". Bener gak?
Kalo kita mau bicara budaya, jelas April Mop bukan budaya yang baik. Wajib untuk ditolak, distop dan jangan sampai diteruskan setiap tahunnya bahkan sampai anak cucu kita. Berbahaya.
Dan tahukah kamu, bahwasannya Rasulullah pernah bersabda "sesungguhnya dusta itu akan mengantarkan pada kejahatan, dan kejahatan akan mengantarkan ke neraka. Jika seseorang membiasakan diri dalam kedustaan maka akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta. (Mutafaq 'alaih)
Nah loh, mau dicap sebagai pendusta. Jangan deh. Kepercayaan yang kita bangun bertahun-tahun dapat runtuh hanya dengan satu kebohongan. Jangan sampai kepercayaan itu hilang gara-gara April Mop. Jadi Stop tipu-tipu ya kakak.
#CatatanSeorangHabib

Jumat, 12 Februari 2016

Imam Syafi'i

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris bin al-’Abbas bin ‘Utsman bin asy-Syafi’i bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yazid bin Hasyim bin al-Muthallib bin ‘Abdi Manaf. Dengan demikian nasab beliau bermuara kepada Abdu Manaf, kakek buyut Nabi SAW.

Meskipun nenek moyang beliau suku Quraisy di Makkah, beliau tidak lahir di Makkah, karena ayah beliau, Idris, merantau ke Syam. Beliau lahir di #Gaza (#Palestina) pada tahun 150 Hijriah, tahun wafatnya Imam Abu Hanifah.

Sejak usia dua tahun beliau menjadi anak yatim. Ibunya lalu membawa beliau ke kampung halaman di Makkah. Sejak kecil, sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau sering mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma dan tulang unta untuk dipakai menulis.

Tentang kegiatan keilmuannya, Imam al-Baihaqi, menuturkan, “Imam Syafi’i memulai aktivitas keilmuannya dengan belajar syair, sejarah dan sastra. Setelah itu ia menekuni fikih.” Imam Syafi’i rahimahulLâh membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat malam dan sepertiganya untuk istirahat.

Sejak di #Makkah Imam Syafi’i sudah hapal al-Quran tatkala berusia 7 tahun dan menghapal kitab Al-Muwattha’ karya Imam Malik tatkala umur 10 tahun. Itu pun hanya butuh waktu 9 hari saat beliau hendak berguru kepada Imam Malik di #Madinah. Lalu pada usia 15 tahun beliau sudah mendapatkan ijazah untuk berfatwa dari gurunya.

Imam Syafi’i adalah juga imam dalam lughah (bahasa). Tentang ini, Ibnu Hisyam (penulis Sirah Nabawiyah) berkata, “Syafii adalah hujjah dalam bahasa Arab”

Imam #Syafii juga adalah seorang penyair. Kumpulan syair atau puisinya dibukukan dalam kitab Dîwân al-Imâm asy-Syâfi’i (Antologi Puisi Imam Syafi'i)

Mungkin kita, generasi muslim di zaman ini tidak akan mampu menyamai kebesaran Imam Syafi’i, namun setidaknya dengan mengetahui biografi Imam Syafi’i ini kita selalu terdorong untuk menempuh jalan yang beliau tempuh dalam mengkaji dan memperjuangkan agama Islam. Semoga Allah SWT merahmatinya.

#YukNgaji di #HizbutTahrirIndonesia. Isi formulir di hizbut-tahrir.or.id/gabung/

Sumber telegram @hizbuttahririd

Kamis, 11 Februari 2016

Mengenal Imam Malik

Imam Malik bin Anas (rahimahullah), lahir pada tahun 93 H di Kota Madinah Al Munawarah. Sejak dini beliau sudah menghafal al-Quran dan hadits sebagaimana kebiasaan keluarga muslim pada zamannya. Saat ia mengutarakan keinginannya untuk mencari ilmu, ibunya memakaikan pakaian yang paling bagus, dengan surban di kepalanya. Lalu ibunya berkata, “Pergilah ke Rabi’ah dan belajarlah adab (akhlak) sebelum ilmunya”

Imam Malik sangat berkomitmen dalam berfatwa. Ia selalu hati-hati, berpikir mendalam dan tidak tergesa-gesa dalam berfatwa. Imam Malik pernah berkata, “Siapa saja yang ingin menjawab pertanyaan (berfatwa), hendaknya ia memikirkan nasibnya di neraka dan surga serta bagaimana ia selamat di negeri akhirat”

Imam Malik adalah ulama yang tak pernah menjilat penguasa. Diriwayatkan,khalifah Harun ar-Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti kajian Al-Muwaththa’ Imam Malik yang menghimpun 100.000 hadis. Khalifah mengutus Yahya bin Khalid al-Barmaki untuk memanggil Imam Malik. Namun, Imam Malik menolak seraya berkata kepada utusan khalifah itu, “Ilmu itu dikunjungi, bukan mengunjungi; didatangi, bukan mendatangi”

Akhirnya, terpaksa Khalifah Harun ar-Rasyid mendatangi Imam Malik dan duduk di majelisnya. Khalifah ingin jamaah meninggalkan majelis tersebut. Namun, permintaan itu ditolak oleh Imam Malik. “Saya tidak bisa mengorbankan kepentingan orang banyak hanya demi kepentingan seorang.” Khalifah pun akhirnya mengikuti kajian Imam Malik dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Sumber : Telegram @hizbuttahtirid

Follow instagram dari #HizbutTahrirIndonesia @hizbuttahririd

#YukNgaji #Islam #Syariah #Khilafah #belajarislam

Senin, 08 Februari 2016

Sahabat yang Mulia: Suhail bin Amr Radhiallâhu 'anhu

Suhail bin Amr adalah pemimpin Bani Amir, dikenal juga dengan Abu Yazid. Ia mempunyai kemuliaan dan kedudukan tinggi di kalangan kaum Quraisy, layaknya Abu Jahal, Uthbah bin Rabiah, Abu Sufyan, dll.

Ketika Rasulullah menyerukan islam di Makkah, Suhail bin Amr termasuk salah satu orang yang sangat keras menentang Islam. Ia senantiasa menghasut orang-orang agar membenci Rasulullah, dengan berpidato kemana-mana.

Kaum musyrikin Quraisy kalah di Perang Badar dan Suhail menjadi tawanan. Saat ditawan, ia melihat bagaimana muslim sangat baik dalam memperlakukan tawanan perang. Setelah tebusannya dibayar, Suhail pun akhirnya dibebaskan.

Beliau masuk Islam saat terjadi Fathu Makkah setelah terpukau dengan kebijaksanaan Rasulullah dan tersadar dengan ajaran Islam yang mulia lagi benar.

Agama Islam telah menempa Suhail dengan ideologi baru. Semua kelebihan dan keahliannya selama ini menambah kokoh imannya. Sehingga orang-orang melukiskan sifatnya dalam beberapa kalimat, “Pemaaf, pemurah, banyak shalat, shaum dan bersedekah serta membaca Alquran dan menangis disebabkan takut kepada Allah”

Suhail sangat mencintai kampung halamannya, Makkah. Walaupun demikian, ia tak hendak kembali ke sana setelah kemenangan kaum Muslimin di Suriah. Ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketekunan seseorang pada suatu saat dalam perjuangan di jalan Allah, lebih baik baginya daripada amal sepanjang hidupnya.’ Maka sungguh Aku akan berjuang di jalan Allah sampai mati, dan takkan kembali ke Makkah!

Suhail memenuhi janjinya ini. Dan ia tetap berjuang di medan perang sepanjang hayatnya, sehingga tiba saat keberangkatannya. Maka ketika ia pergi, segeralah rohnya terbang mendapatkan rahmat dan keridhaan Allah.

Keteguhan Suhail bin Amr dalam berjuang di jalan Allah SWT patut kita teladani untuk mengobarkan semangat agar tetap istiqomah dalam dakwah.

#syariah #khilafah #nabi #prophet #hti #muhammad

Gabung di channel Telegram @hizbuttahririd ( bit.ly/TelegramHizbutTahrirId )

Minggu, 07 Februari 2016

Mengenal Imam Ahmad bin Hanbal Pendiri Madzab Hambali

Nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal asy-Syaibani. Beliau lahir di Kota Baghdad pada Rabi’ul Awwal tahun 164 H (780 M)

Sejak kecil Imam Ahmad yatim dan miskin. Namun, berkat bimbingan ibunya yang shalihah beliau mampu menjadi orang yang amat mencintai ilmu dan kebenaran.

Meski dalam suasana serba kekurangan, safarnya dalam rangka menuntut ilmu tak pernah surut. Meski beliau sudah menjadi imam besar, ‘pekerjaan’ menuntut ilmu dan mendatangi guru-guru yang lebih alim tak pernah berhenti.

Guru pertama Imam Ahmad muda adalah murid senior dari Imam Abu Hanifah yakni Abu Yusuf al-Qadhi. Ia belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi qiyas dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Mazhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadis dari seorang ahli hadis Baghdad, Haitsam bin Bishr. Ia juga mengunjungi kota-kota ilmu lainnya seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman dalam rangka belajar kepada ulama lain.

Dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan Imam Syafi'i di Mekah dan menimba ilmu darinya selama empat tahun. Setelah belajar dengan Imam Syafi'i, Imam Ahmad mampu secara mandiri merumuskan pendapatnya dalam fikih. Beliau membangun mazhab fikih yang kita kenal hari ini dengan nama Madzhab Hanbali.

Imam Ahmad menjadi seorang ahli hadis sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi murid-murid dari berbagai penjuru negeri, terutama setelah Imam Syafi'i wafat tahun 820. Ia seolah-olah menjadi satu-satunya sumber rujukan utama bagi para penuntut ilmu senior maupun junior.

Imam Ahmad wafat hari Jumat, 12 Rabiul Awwal 241 H, dalam usia 80 tahun. Disebutkan bahwa ada lebih dari sejuta orang yang turut mengantar jenazah beliau ke pemakamannya.

Jejak ilmu yang beliau tinggalkan bagi umat ini begitu berlimpah. Namanya begitu harum, tertulis dengan tinta emas di dalam baris-baris halaman kitab para ulama dan penimba ilmu. Semoga Allah menerima amalannya dan menempatkannya di surga yang penuh kenikmatan.

Selengkapnya http://hizbut-tahrir.or.id/2015/10/07/imam-hambali/

Follow official IG #HizbutTahrirIndonesia @hizbuttahririd ( instagram.com/hizbuttahririd )

#YukNgaji

Kamis, 14 Januari 2016

#ReadingReport4 "Buku Api Sejarah Jilid I"

Ketergantungan Pangreh Pradja Terhadap Taokeh

Memahami sejarah masa lalu untuk melihat masa kini. Pada masa kolonial Belanda, untuk menjadi Pangreh Pradja (Red-Pegawai Pemerintah) disyaratkan memiliki sejumlah uang. Hal tersebut dikatakan sebagai "pendanaan ilegal kepala daerah" atau "pilkada" zaman kolonial. Disebut ilegal karena tidak ada Surat Perintah Gubernur Jendral.

Prof. Dr. D.H. Burger dan Prof. Dr. Mr. Prajudi dalam Sedjarah Ekonomis Sosiologis Indonesia menuturkan bahwa untuk seorang calon Loerah harus memiliki uabg sejumlah f.700,- hingga f.1.000,-  . Uang tersebut "dipersembahkan" kepada bupati f.200,- untuk Wedana f.100,- dan untuk Jurutulis Controleur f.25,- dan sisanya digunakan untuk "mensejahterakan" eselon lainnya yang terkait dalam struktur kepangreh pradjaan.

Bayangkan, mau jadi Loerah saja dananya sebanyak itu. Belum jika jadi Camat, Bupati, Patih dll. Pertanyaanya adalah darimana calon tersebut memperoleh pinjaman. Ternyata mereka meminjam dari orang Cina yang disebit sebagai Taokeh. Meskipun calon dipilih oleh rakyat, jika calon tidak memberikan dana-dana ilegal, tidak mungkin dia menjadi Loerah.

Lantas bagaimana cara mengembalikan dana pinjaman tersebut? Adapun sistem pengembaliannya Taokeh bertindak seperti raja-raja kecil di desa atau kabupaten. Rakyat harus bekerja untuk kepentingan Taokeh. Meskipun ada wabah penyakit, kelaparan, Loerah dan Boepati tidak dapat berdaya membela rakyat dan tidak berani melawan penindasan Taokeh.

Itu zaman dulu, zaman Kolonial. Pertanyaanya apakah di zaman sekarang masih ada? Bukan masih lagi, tapi banyak dan merajarela. Dulu namanya Taokeh, sekarang menjadi Aseng. Dulu hanya Taokeh, tapi sekarang juga ada Asing (Orang-orang Barat -Amerika dkk). Dan sekarang ditambah adanya Antek. Siapa Antek? Merekalah orang-orang yang duduk di Pemerintahan yang mengaku melayani rakyat tapi faktanya mereka melayani Asing dan Aseng.

Silahkan dibaca sendiri di halaman 213

Rabu, 13 Januari 2016

#ReadingReport3 "Buku Api Sejarah Jilid I"

Pangeran Diponegoro
Putra Sulung Soeltan Hamengkoeboeana III
Dididik oleh moyangnya, Ratoe Ageng di Tegalreja Magelang

H.J. van den Berg dalam "Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia, III" menyatakan Pangeran Diponegoro sebagai seorang Muslim yang saleh dan taat pada aturan agama Islam. Ia menentang tingkah laku Soeltan Hamengkoeboeana IV yang mengikuti kebiasaan orang kafir Belanda, suka mabuk-mabukan hingga mati dalam keadaan mabuk minuman keras. Residen Smissaert mengangkat putranya yang baru berusia tiga tahun sebagai Soeltan Hamengkoeboeana V.

Pangeran Diponegoro melancarkan protes keras. Ia pun diangkat oleh rakyat sebagai Soeltan Abdoelhamid Eroetjakra Amiroel Moekminin, Sjaijjidin Panatagama, Chalifah Rasoeloellah saw ing Tanah Djawa. Pecahlah Perang Diponegoro 1240-1245 H/ 1825-1830 M.

Perhatikan Busana Pangeran Diponegoro sebagai pembaharu Islam di Jawa Tengah menggantikan busana tradisi Jawa dengan busana Islami. Busananya sama dengan Panglima Sentot Alibasah Prawirodirdjo, putra Bupati Madiun dan Penasehat Agama Kia Modjo. Hal ini sama dan sejamam dengan gerakan pembaharuan agama di Sumatra Barat, Imam Bonjol pemimpin Perang Padri, 1236-1252 H/1821-1837 M.

Selanjutnya baca sendiri di halaman 197 sampai selesai

Selasa, 12 Januari 2016

#ReadingReport2 "Buku Api Sejarah Jilid I"

Pengaruh Revolusi Protestan Terhadap Kelahiran Amerika Serikat

Dalam sejarahnya, Amerika sudah disebut sebagai Pendekar Demokrasi meski perbudakan Negro baru dihapuska seratus tahun setelah berdirinya negara tersebut. Pada perkembangan selanjutnya, Amerika menjadi negara Imperialis. Termasuk Amerikalah yang memaksa negara Jepang untuk menjadi negara Imperialis Timur.

Dari fakta dan data sejarah tumbuhnya imperialisme, ternyata negara-negara Barat terjadi persaingan, pertentangan dan permusuhan antar sesama negara penjajah. Hal yang perlu dicatat adalah, mereka (Red- negara Imperialis Barat) sepakat bersama-sama untuk menghancurkan kekuatan Islam. Maka langkah selanjutnya adalah membuat skenario bersama untuk menaklukkan Islam.

Runtuhnya Kekhalifahan Turki sebagai bukti konspirasinya dalam menaklukkan kekuatan Islam. Selanjutnya Ibnu Saud menjadi Raja Saudi Arabia. Berdirinya Negara Israel merupakan keberhasilan konspirasi bersama negara-negara Imperialis dalam mengalahkan kekuatan Islam.

Semua itu terbukti. Sampai saat ini negara Israel didukung negara-negara Imperialis. Negara-negara Islam hanya diam.

Selanjutnya bisa dibaca di dalam buku "Api Sejarah Jilid I edisi Revisi" karya Ahmad Mansur Suryanegara terbit tahun 2014 halaman 171-174

Senin, 11 Januari 2016

#ReadingReport1 "Buku Api Sejarah Jilid I"

Pasar, Pesantren dan Kekuasaan Politik Islam

Kehadiran Islam di tengah masyarakat Indonesia yang dibawa para wirausahawan Muslim mampu menjadi kekuatan dalam meningkatkan perekonomian rakyat. Wirausahawan Muslim menjadi change agent (pelaku pengubah) kondisi sosial ekonomi masyarakat dan menjadikan hal tersebut sebagai objek dakwah.

Wirausahawan Muslim tidak hanya sebagai pelaku pasar, namun juga sebagai pendidik generasi muda dan pesantren. Sehingga muncul komunitas baru yang meliputi wirausahawan, ulama, santri dan perkembangan selanjutnya komunitas tersebut menuntut dibentuknya pemerintah atau kekuasaan politik Islam atau Khilafah.

Selanjutnya bisa dibaca di dalam buku "Api Sejarah Jilid I edisi Revisi" karya Ahmad Mansur Suryanegara terbit tahun 2014 halaman 154-158

Diberdayakan oleh Blogger.