Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Mei 2016

KISAH SAHABAT UKASYAH

Kisah ini terjadi pada diri Rasulullah SAW sebelum meninggal.
Rasulullah SAW telah jatuh sakit agak lama, sehingga kondisi.  beliau sangat lemah.
Pada suatu hari Rasulullah SAW meminta Bilal memanggil semua sahabat datang ke Masjid. Tidak lama kemudian, penuhlah Masjid dengan para sahabat. Semuanya merasa rindu setelah agak lama tidak mendapat taushiyah dari Rasulullah SAW.

Beliau duduk dengan lemah di atas mimbar. Wajahnya terlihat pucat, menahan sakit yang tengah dideritanya. Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Wahai sahabat2 ku semua. Aku ingin bertanya, apakah telah aku sampaikan semua kepadamu, bahwa sesungguhnya Allah SWT itu adalah satu2nya Tuhan yang layak di sembah?"
Semua sahabat menjawab dengan suara bersemangat, " Benar wahai Rasulullah, Engkau telah sampaikan kepada kami bahwa sesungguhnya Allah SWT adalah satu2nya Tuhan yang layak disembah."
Kemudian Rasulullah SAW bersabda:
"Persaksikanlah ya Allah. Sesungguhnya aku telah menyampaikan amanah ini kepada mereka."
Kemudian Rasulullah bersabda lagi, dan setiap apa yang Rasulullah sabdakan selalu dibenarkan oleh para sahabat.
Akhirnya sampailah kepada satu pertanyaan yang menjadikan para sahabat sedih dan terharu.
Rasulullah SAW bersabda:
"Sesungguhnya, aku akan pergi menemui Allah. Dan sebelum aku pergi, aku ingin menyelesaikan segala urusan dengan manusia. Maka aku ingin bertanya kepada kalian semua. Adakah aku berhutang kepada kalian? Aku ingin menyelesaikan hutang tersebut. Karena aku tidak mau bertemu dengan Allah dalam keadaan berhutang dengan manusia."
Ketika itu semua sahabat diam, dan dalam hati masing2 berkata "Mana ada Rasullullah SAW berhutang dengan kita? Kamilah yang banyak berhutang kepada Rasulullah".
Rasulullah SAW mengulangi pertanyaan itu sebanyak 3 kali.
Tiba2 bangun seorang lelaki yang bernama UKASYAH, seorang sahabat mantan preman sebelum masuk Islam, dia berkata:
"Ya Rasulullah! Aku ingin sampaikan masalah ini. Seandainya ini dianggap hutang, maka aku minta engkau selesaikan. Seandainya bukan hutang, maka tidak perlulah engkau berbuat apa-apa".
Rasulullah SAW berkata: "Sampaikanlah wahai Ukasyah".
Maka Ukasyah pun mulai bercerita:
"Aku masih ingat ketika perang Uhud dulu, satu ketika engkau menunggang kuda, lalu engkau pukulkan cambuk ke belakang kuda. Tetapi cambuk tersebut tidak kena pada belakang kuda, tapi justru terkena pada dadaku, karena ketika itu aku berdiri di belakang kuda yang engkau tunggangi wahai Rasulullah".
Mendengar itu, Rasulullah SAW berkata: "Sesungguhnya itu adalah hutang wahai Ukasyah. Kalau dulu aku pukul engkau, maka hari ini aku akan terima hal yang sama."
Dengan suara yang agak tinggi, Ukasyah berkata: "Kalau begitu aku ingin segera melakukannya wahai Rasulullah."
Ukasyah seakan-akan tidak merasa bersalah mengatakan demikian.
Sedangkan ketika itu sebagian sahabat berteriak marah pada Ukasyah. "Sungguh engkau tidak berperasaan Ukasyah, bukankah Baginda sedang sakit..!?"
Ukasyah tidak menghiraukan semua itu. Rasulullah SAW meminta Bilal mengambil cambuk di rumah anaknya Fatimah.
Bilal meminta cambuk itu dari Fatimah, kemudian Fatimah bertanya: "Untuk apa Rasulullah meminta cambuk ini wahai Bilal?"
Bilal menjawab dengan nada sedih: "Cambuk ini akan digunakan Ukasyah untuk memukul Rasulullah"
Terperanjat dan menangis Fatimah seraya berkata:
"Kenapa Ukasyah hendak pukul ayahku Rasulullah? Ayahku sedang sakit, kalau mau mukul, pukullah aku anaknya".
Bilal menjawab: "Sesungguhnya ini adalah urusan antara mereka berdua".
Bilal membawa cambuk tersebut ke Masjid lalu diberikan kepada Ukasyah.
Setelah mengambil cambuk, Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah.
Tiba2 Abu bakar berdiri menghalangi Ukasyah sambil
berkata: "Ukasyah..! kalau kamu hendak memukul, pukullah aku. Aku orang yang pertama beriman dengan apa yang Rasulullah SAW sampaikan. Akulah sahabatnya di kala suka dan duka. Kalau engkau hendak memukul, maka pukullah aku".
Rasulullah SAW: "Duduklah wahai Abu Bakar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".
Ukasyah menuju kehadapan Rasulullah. Kemudian Umar berdiri menghalangi Ukasyah sambil berkata:
"Ukasyah..! kalau engkau mau mukul, pukullah aku. Dulu memang aku tidak suka mendengar nama Muhammad, bahkan aku pernah berniat untuk menyakitinya, itu dulu. Sekarang tidak boleh ada seorangpun yang boleh menyakiti Rasulullah Muhammad. Kalau engkau berani menyakiti Rasulullah, maka langkahi dulu mayatku..!."
Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Umar. Ini urusan antara aku dengan Ukasyah".
Ukasyah menuju ke hadapan Rasulullah, tiba2 berdiri Ali bin Abu Talib sepupu sekaligus menantu Rasulullah SAW.
Dia menghalangi Ukasyah sambil berkata: "Ukasyah, pukullah aku saja. Darah yang sama mengalir pada tubuhku ini wahai Ukasyah".
Lalu dijawab oleh Rasulullah SAW:
"Duduklah wahai Ali, ini urusan antara aku dengan Ukasyah" .
Ukasyah semakin dekat dengan Rasulullah. Tiba2 tanpa disangka, bangkitlah kedua cucu kesayangan Rasulullah SAW yaitu Hasan dan Husen.
Mereka berdua memegangi tangan Ukasyah sambil memohon. "Wahai Paman, pukullah kami Paman. Kakek kami sedang sakit, pukullah kami saja wahai Paman. Sesungguhnya kami ini cucu kesayangan Rasulullah, dengan memukul kami sesungguhnya itu sama dengan menyakiti kakek kami, wahai Paman."
Lalu Rasulullah SAW berkata: "Wahai cucu2 kesayanganku duduklah kalian. Ini urusan Kakek dengan Paman Ukasyah".
Begitu sampai di tangga mimbar, dengan lantang Ukasyah berkata:
"Bagaimana aku mau memukul engkau ya Rasulullah. Engkau duduk di atas dan aku di bawah. Kalau engkau mau aku pukul, maka turunlah ke bawah sini."
Rasulullah SAW memang manusia terbaik. Kekasih Allah itu meminta beberapa sahabat memapahnya ke bawah. Rasulullah didudukkan pada sebuah kursi, lalu dengan suara tegas Ukasyah berkata lagi:
"Dulu waktu engkau memukul aku, aku tidak memakai baju, Ya Rasulullah"
Para sahabat sangat geram mendengar perkataan Ukasyah.
Tanpa berlama2 dalam keadaan lemah, Rasulullah membuka bajunya. Kemudian terlihatlah tubuh Rasulullah yang sangat indah, sedang beberapa batu terikat di perut Rasulullah pertanda Rasulullah sedang menahan lapar.
Kemudian Rasulullah SAW berkata:
"Wahai Ukasyah, segeralah dan janganlah kamu berlebih2an. Nanti Allah akan murka padamu."
Ukasyah langsung menghambur menuju Rasulullah SAW, cambuk di tangannya ia buang jauh2, kemudian ia peluk tubuh Rasulullah SAW seerat-eratnya. Sambil menangis sejadi2nya,
Ukasyah berkata:
"Ya Rasulullah, ampuni aku, maafkan aku, mana ada manusia yang sanggup menyakiti engkau ya Rasulullah. Sengaja aku melakukannya agar aku dapat merapatkan tubuhku dengan tubuhmu.
Seumur hidupku aku bercita2 dapat memelukmu. Karena sesungguhnya aku tahu bahwa tubuhmu tidak akan dimakan oleh api neraka.
Dan sungguh aku takut dengan api neraka. Maafkan aku ya Rasulullah..."
Rasulullah SAW dengan senyum berkata:
"Wahai sahabat2ku semua, kalau kalian ingin melihat ahli Surga, maka lihatlah Ukasyah..!"
Semua sahabat meneteskan air mata. Kemudian para sahabat
bergantian memeluk Rasulullah SAW.
Meski sudah sering membaca dan mendengar kisah ini berulang-ulang, tetap saja kita menangis.
Semoga tetesan air mata ini membuktikan kecintaan kita kpd Rasulullah saw.

Dicopast dari group WA "FTI"

Jumat, 12 Februari 2016

Imam Syafi'i

Nama lengkapnya adalah Muhammad bin Idris bin al-’Abbas bin ‘Utsman bin asy-Syafi’i bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yazid bin Hasyim bin al-Muthallib bin ‘Abdi Manaf. Dengan demikian nasab beliau bermuara kepada Abdu Manaf, kakek buyut Nabi SAW.

Meskipun nenek moyang beliau suku Quraisy di Makkah, beliau tidak lahir di Makkah, karena ayah beliau, Idris, merantau ke Syam. Beliau lahir di #Gaza (#Palestina) pada tahun 150 Hijriah, tahun wafatnya Imam Abu Hanifah.

Sejak usia dua tahun beliau menjadi anak yatim. Ibunya lalu membawa beliau ke kampung halaman di Makkah. Sejak kecil, sekalipun hidup dalam kemiskinan, beliau tak berputus asa dalam menimba ilmu. Beliau sering mengumpulkan pecahan tembikar, potongan kulit, pelepah kurma dan tulang unta untuk dipakai menulis.

Tentang kegiatan keilmuannya, Imam al-Baihaqi, menuturkan, “Imam Syafi’i memulai aktivitas keilmuannya dengan belajar syair, sejarah dan sastra. Setelah itu ia menekuni fikih.” Imam Syafi’i rahimahulLâh membagi waktu malamnya menjadi tiga: sepertiga untuk menulis, sepertiga untuk shalat malam dan sepertiganya untuk istirahat.

Sejak di #Makkah Imam Syafi’i sudah hapal al-Quran tatkala berusia 7 tahun dan menghapal kitab Al-Muwattha’ karya Imam Malik tatkala umur 10 tahun. Itu pun hanya butuh waktu 9 hari saat beliau hendak berguru kepada Imam Malik di #Madinah. Lalu pada usia 15 tahun beliau sudah mendapatkan ijazah untuk berfatwa dari gurunya.

Imam Syafi’i adalah juga imam dalam lughah (bahasa). Tentang ini, Ibnu Hisyam (penulis Sirah Nabawiyah) berkata, “Syafii adalah hujjah dalam bahasa Arab”

Imam #Syafii juga adalah seorang penyair. Kumpulan syair atau puisinya dibukukan dalam kitab Dîwân al-Imâm asy-Syâfi’i (Antologi Puisi Imam Syafi'i)

Mungkin kita, generasi muslim di zaman ini tidak akan mampu menyamai kebesaran Imam Syafi’i, namun setidaknya dengan mengetahui biografi Imam Syafi’i ini kita selalu terdorong untuk menempuh jalan yang beliau tempuh dalam mengkaji dan memperjuangkan agama Islam. Semoga Allah SWT merahmatinya.

#YukNgaji di #HizbutTahrirIndonesia. Isi formulir di hizbut-tahrir.or.id/gabung/

Sumber telegram @hizbuttahririd

Kamis, 11 Februari 2016

Mengenal Imam Malik

Imam Malik bin Anas (rahimahullah), lahir pada tahun 93 H di Kota Madinah Al Munawarah. Sejak dini beliau sudah menghafal al-Quran dan hadits sebagaimana kebiasaan keluarga muslim pada zamannya. Saat ia mengutarakan keinginannya untuk mencari ilmu, ibunya memakaikan pakaian yang paling bagus, dengan surban di kepalanya. Lalu ibunya berkata, “Pergilah ke Rabi’ah dan belajarlah adab (akhlak) sebelum ilmunya”

Imam Malik sangat berkomitmen dalam berfatwa. Ia selalu hati-hati, berpikir mendalam dan tidak tergesa-gesa dalam berfatwa. Imam Malik pernah berkata, “Siapa saja yang ingin menjawab pertanyaan (berfatwa), hendaknya ia memikirkan nasibnya di neraka dan surga serta bagaimana ia selamat di negeri akhirat”

Imam Malik adalah ulama yang tak pernah menjilat penguasa. Diriwayatkan,khalifah Harun ar-Rasyid (penguasa saat itu), tertarik mengikuti kajian Al-Muwaththa’ Imam Malik yang menghimpun 100.000 hadis. Khalifah mengutus Yahya bin Khalid al-Barmaki untuk memanggil Imam Malik. Namun, Imam Malik menolak seraya berkata kepada utusan khalifah itu, “Ilmu itu dikunjungi, bukan mengunjungi; didatangi, bukan mendatangi”

Akhirnya, terpaksa Khalifah Harun ar-Rasyid mendatangi Imam Malik dan duduk di majelisnya. Khalifah ingin jamaah meninggalkan majelis tersebut. Namun, permintaan itu ditolak oleh Imam Malik. “Saya tidak bisa mengorbankan kepentingan orang banyak hanya demi kepentingan seorang.” Khalifah pun akhirnya mengikuti kajian Imam Malik dan duduk berdampingan dengan rakyat kecil.

Sumber : Telegram @hizbuttahtirid

Follow instagram dari #HizbutTahrirIndonesia @hizbuttahririd

#YukNgaji #Islam #Syariah #Khilafah #belajarislam

Senin, 08 Februari 2016

Sahabat yang Mulia: Suhail bin Amr Radhiallâhu 'anhu

Suhail bin Amr adalah pemimpin Bani Amir, dikenal juga dengan Abu Yazid. Ia mempunyai kemuliaan dan kedudukan tinggi di kalangan kaum Quraisy, layaknya Abu Jahal, Uthbah bin Rabiah, Abu Sufyan, dll.

Ketika Rasulullah menyerukan islam di Makkah, Suhail bin Amr termasuk salah satu orang yang sangat keras menentang Islam. Ia senantiasa menghasut orang-orang agar membenci Rasulullah, dengan berpidato kemana-mana.

Kaum musyrikin Quraisy kalah di Perang Badar dan Suhail menjadi tawanan. Saat ditawan, ia melihat bagaimana muslim sangat baik dalam memperlakukan tawanan perang. Setelah tebusannya dibayar, Suhail pun akhirnya dibebaskan.

Beliau masuk Islam saat terjadi Fathu Makkah setelah terpukau dengan kebijaksanaan Rasulullah dan tersadar dengan ajaran Islam yang mulia lagi benar.

Agama Islam telah menempa Suhail dengan ideologi baru. Semua kelebihan dan keahliannya selama ini menambah kokoh imannya. Sehingga orang-orang melukiskan sifatnya dalam beberapa kalimat, “Pemaaf, pemurah, banyak shalat, shaum dan bersedekah serta membaca Alquran dan menangis disebabkan takut kepada Allah”

Suhail sangat mencintai kampung halamannya, Makkah. Walaupun demikian, ia tak hendak kembali ke sana setelah kemenangan kaum Muslimin di Suriah. Ia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Ketekunan seseorang pada suatu saat dalam perjuangan di jalan Allah, lebih baik baginya daripada amal sepanjang hidupnya.’ Maka sungguh Aku akan berjuang di jalan Allah sampai mati, dan takkan kembali ke Makkah!

Suhail memenuhi janjinya ini. Dan ia tetap berjuang di medan perang sepanjang hayatnya, sehingga tiba saat keberangkatannya. Maka ketika ia pergi, segeralah rohnya terbang mendapatkan rahmat dan keridhaan Allah.

Keteguhan Suhail bin Amr dalam berjuang di jalan Allah SWT patut kita teladani untuk mengobarkan semangat agar tetap istiqomah dalam dakwah.

#syariah #khilafah #nabi #prophet #hti #muhammad

Gabung di channel Telegram @hizbuttahririd ( bit.ly/TelegramHizbutTahrirId )

Minggu, 07 Februari 2016

Mengenal Imam Ahmad bin Hanbal Pendiri Madzab Hambali

Nama lengkapnya Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal asy-Syaibani. Beliau lahir di Kota Baghdad pada Rabi’ul Awwal tahun 164 H (780 M)

Sejak kecil Imam Ahmad yatim dan miskin. Namun, berkat bimbingan ibunya yang shalihah beliau mampu menjadi orang yang amat mencintai ilmu dan kebenaran.

Meski dalam suasana serba kekurangan, safarnya dalam rangka menuntut ilmu tak pernah surut. Meski beliau sudah menjadi imam besar, ‘pekerjaan’ menuntut ilmu dan mendatangi guru-guru yang lebih alim tak pernah berhenti.

Guru pertama Imam Ahmad muda adalah murid senior dari Imam Abu Hanifah yakni Abu Yusuf al-Qadhi. Ia belajar dasar-dasar ilmu fikih, kaidah-kaidah ijtihad, dan metodologi qiyas dari Abu Yusuf. Setelah memahami prinsip-prinsip Mazhab Hanafi, Imam Ahmad mempelajari hadis dari seorang ahli hadis Baghdad, Haitsam bin Bishr. Ia juga mengunjungi kota-kota ilmu lainnya seperti Mekah, Madinah, Suriah, dan Yaman dalam rangka belajar kepada ulama lain.

Dalam perjalanan tersebut ia bertemu dengan Imam Syafi'i di Mekah dan menimba ilmu darinya selama empat tahun. Setelah belajar dengan Imam Syafi'i, Imam Ahmad mampu secara mandiri merumuskan pendapatnya dalam fikih. Beliau membangun mazhab fikih yang kita kenal hari ini dengan nama Madzhab Hanbali.

Imam Ahmad menjadi seorang ahli hadis sekaligus ahli fikih yang banyak dikunjungi murid-murid dari berbagai penjuru negeri, terutama setelah Imam Syafi'i wafat tahun 820. Ia seolah-olah menjadi satu-satunya sumber rujukan utama bagi para penuntut ilmu senior maupun junior.

Imam Ahmad wafat hari Jumat, 12 Rabiul Awwal 241 H, dalam usia 80 tahun. Disebutkan bahwa ada lebih dari sejuta orang yang turut mengantar jenazah beliau ke pemakamannya.

Jejak ilmu yang beliau tinggalkan bagi umat ini begitu berlimpah. Namanya begitu harum, tertulis dengan tinta emas di dalam baris-baris halaman kitab para ulama dan penimba ilmu. Semoga Allah menerima amalannya dan menempatkannya di surga yang penuh kenikmatan.

Selengkapnya http://hizbut-tahrir.or.id/2015/10/07/imam-hambali/

Follow official IG #HizbutTahrirIndonesia @hizbuttahririd ( instagram.com/hizbuttahririd )

#YukNgaji

Rabu, 13 Januari 2016

#ReadingReport3 "Buku Api Sejarah Jilid I"

Pangeran Diponegoro
Putra Sulung Soeltan Hamengkoeboeana III
Dididik oleh moyangnya, Ratoe Ageng di Tegalreja Magelang

H.J. van den Berg dalam "Dari Panggung Peristiwa Sedjarah Dunia, III" menyatakan Pangeran Diponegoro sebagai seorang Muslim yang saleh dan taat pada aturan agama Islam. Ia menentang tingkah laku Soeltan Hamengkoeboeana IV yang mengikuti kebiasaan orang kafir Belanda, suka mabuk-mabukan hingga mati dalam keadaan mabuk minuman keras. Residen Smissaert mengangkat putranya yang baru berusia tiga tahun sebagai Soeltan Hamengkoeboeana V.

Pangeran Diponegoro melancarkan protes keras. Ia pun diangkat oleh rakyat sebagai Soeltan Abdoelhamid Eroetjakra Amiroel Moekminin, Sjaijjidin Panatagama, Chalifah Rasoeloellah saw ing Tanah Djawa. Pecahlah Perang Diponegoro 1240-1245 H/ 1825-1830 M.

Perhatikan Busana Pangeran Diponegoro sebagai pembaharu Islam di Jawa Tengah menggantikan busana tradisi Jawa dengan busana Islami. Busananya sama dengan Panglima Sentot Alibasah Prawirodirdjo, putra Bupati Madiun dan Penasehat Agama Kia Modjo. Hal ini sama dan sejamam dengan gerakan pembaharuan agama di Sumatra Barat, Imam Bonjol pemimpin Perang Padri, 1236-1252 H/1821-1837 M.

Selanjutnya baca sendiri di halaman 197 sampai selesai

Diberdayakan oleh Blogger.