Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 November 2017

#CatatanSeorangHabib tentang Perjalanan Hidup



Hidup itu tentang perjalanan...... simak selanjutnya di videonya.... makasih yang udah tonton, suwun banget yang mau like, apalagi mau menyempatkan waktunya untuk nulis komentar, klik share n klik subscribe, angkat topi buat kamu :)






Ini channel youtube saya butuh support kawan-kawan, monggo dilihat dulu youtube.com?mochamadhabib

"Matur Suwun Nggeh, Salam Sukses Seduluran"

Rabu, 26 Juli 2017

#LIBURAN HABIB & NIZAR - JATIM PARK 2 BATU - PART 2


dibuang sayang, sebenarnya liburannya udah lama, dan videonya juga jadinya udah lama, cuma yaaaa gitu lah, nggak ada yang sempurna, kita hanya bisa berusaha. selamat menyaksikan :)
.
.
.



Terimakasih udah nonton, kritik saran di kolom komentar sangat saya harapkan agar kedepannya bisa tercipta karya-karya yang lebih baik. Satu like cukup berarti untuk memberi semangat saya berkreasi lagi. terima kasih lebih saya ucapkan bagi yang udah subscribe di channel youtube saya, nih linknya www.youtube.com/mochamadhabib

"Matur Suwun Nggeh, Salam Sukses Seduluran"

Sabtu, 29 Oktober 2016

Semuslim Sesaudara

Setiap Muslim adalah saudara bersama Muslim lainnya
Tak peduli dari rahim siapa dilahirkan dirinya
Tak peduli dirinya dari keturunan Jawa, Madura, Sunda, Batak bahkan Cina
Jika Allah sudah katakan "Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara" (49:10)
Maka itu sudah cukup, tak ada alasan untuk menolaknya
.
Tak ada alasan bagi kita untuk membeda-bedakannya
Karena yang membedakan kita dengan Muslim lainnya hanya ketakwaannya
Dan hanya Allah yang berhak menilai ketakwaan tiap-tiap hambaNya
.
Tak ada alasan jika jarak dan wilayah memisahkan kita
Lantas kita diam dan membiarkan mereka kelaparan, dihina bahkan disiksa
Karena kata Rasulullah, Muslim itu bagaikan satu tubuh saja
Apabila ada bagian yang sakit, Maka seluruh tubuh harusnya merasakan sakit semua
.
Tapi sepertinya dunia sudah berubah
Karena media dan propaganda sampah
Semuanya dikondisikan menjadi manusia-manusia bedebah
Yang sibuk ngurus diri sendiri hingga lupa jika kita sejatinya satu tubuh
.
Menolong sesama muslim menjadi perdebatan
Hanya gara-gara kita beda kewarganegaraan
Padahal Islam tidak mengajarkan yang demikian
Maka saatnya Anda yang mengaku muslim, tolong bangun dari tidur Anda yang mengenakan
.
Saatnya umat muslim bersatu
Saling bahu-membahu membatu
Melanjutkan kehidupan Islam dengan perasaan yang satu
Dengan pemikiran yang satu
Dengan aturan yang satu
Dan dengan negara yang satu
Apalagi namanya jika bukan Khilafah itu
Agar tetap berrima u u u
Maka jika ada yang bertanya siapa yang menginginkan kehidupan seperti itu
Diantara jutaan oranganya, salah satunya adalah Aku
.
.
Malang, 29 Oktober 2016 disore yang sejuk bersama @felixsiauw
@cahyoahmadirsyad @agoytama
#catat #catatan #catatanseoranghabib

Jumat, 07 Oktober 2016

Surat Untuk Negeri

Dear orang tua, ulama, guru, dan para pendidik
.
.
Terima kasih telah kau ajarkan tentang nilai-nilai kebaikan
Terima kasih kau tunjukkan mana baik mana buruk
.
Tapi hari ini ada yang mengatakan kau adalah penipu
Bagaimana perasaanmu?
.
.
Dear penegak hukum, aparat dan pejabat
.
.
Kau hadir untuk menegakkan hukum
Menindak tegas mana yang baik mana yang buruk
.
Tapi hari ini ada orang baik yang dikatakan penipu
Apa yang kau lakukan?
.
.
Apakah negeri ini sudah krisis orang baik?
Apakah negeri ini takut dengan orang jahat?
Apakah negeri ini takut dengan pejabat?
Apakah negeri ini sudah lupa mana baik mana buruk?
.
.
#catatan #catatanseoranghabib

Jumat, 12 Agustus 2016

MERDEKA KITA LEVEL BERAPA?


Puisi: Prof. Dr. Fahmi Amhar

Kita ini baru merdeka penuh di level 1, yakni merdeka fisik.  Tidak ada lagi pasukan tentara asing yang petentang-petenteng di negeri ini.  Kalau ada tentara asing, pasti sedang dalam misi penanggulangan bencana seperti saat Tsunami Aceh 2004, atau mereka yang sedang ikut latihan bersama UN-Stand By Force (SBF) di Sentul, Bogor.  Di dunia, negara yang saat ini jelas tidak merdeka di level-1 adalah Afghanistan, Irak atau Palestina. 

Level 2 merdeka, itu merdeka memilih pemerintah.  Secara normatif, pada level-2 ini, kita lebih merdeka dari Australia atau Canada.  Siapa yang jadi kepala negara di sana, ditunjuk oleh Ratu Inggris.  Australia atau Canada boleh saja bikin pemilu untuk mendapatkan Perdana Menteri baru.  Tetapi yang melantiknya adalah Gubernur Jenderal yang ditunjuk oleh Ratu Inggris.  Gubernur Jenderal itu pula yang akan mengesahkan UU, mengangkat panglima angkatan bersenjata, atau mengangkat dan memberhentikan para hakim.  Tetapi pada level-2 ini, kita belum 100% merdeka.  Meski rakyat Indonesia memilih sendiri presidennya, tetapi siapa calon presiden atau menteri yang akan terpilih, dipengaruhi oleh asing dalam bentuk "opini" ataupun "penerimaan pasar".

Level 3 merdeka, itu merdeka menentukan hukum.  Di sini derajat kemerdekaan kita lebih berkurang lagi.  Betul UU kita diketok di DPR hasil pilihan kita sendiri.  Tetapi, di antara draft yang masuk, ada sekian banyak draft yang dibuatkan oleh lembaga-lembaga asing seperti WB, IMF, UNDP atau USAID.  Mungkin UU yang kurang "sexy" seperti UU Informasi Geospasial atau UU Narkotika tidak banyak diintervensi asing.  Tetapi, UU Migas, UU Listrik, UU Penanaman Modal dan berbagai UU "basah" yang lain dipastikan ada peran asing di dalamnya.
Kalau sebuah negara Level-1,2,3 ini sudah 100%, negara ini baru bisa disebut merdeka secara fisik.  Negara itu baru negara yang "profesional".  Dia merdeka, tetapi boleh jadi masih miskin dan rakyatnya masih sengsara.  Salah satu contoh negara seperti itu boleh jadi adalah Korea Utara.

Level 4 merdeka, itu merdeka secara teknologi.  Bangsa itu mampu menciptakan teknologi yang mereka butuhkan.  Derajat merdeka kita di level-4 ini sangat rendah, tetapi mungkin masih lebih baik dari negara seperti Saudi Arabia atau Brunei Darussalam, yang teknologi apapun diimpor.  Kita alhamdulillah masih punyalah berbagai campus teknologi yang top-600 dunia, masih punya beberapa industri teknologi yang membanggakan.  Tetapi tetap harus kita akui, secara teknologi kita saat ini masih terjajah.  Kita masih sangat tergantung kepada asing, dan akibatnya asing masih mudah mempermainkan negeri kita dengan sarana teknologi yang mereka buat.

Level 5 merdeka, itu merdeka secara ekonomi.  Teknologi canggih rupanya tunduk juga pada tata ekonomi dunia.  Di bidang ekonomi ini kita sangat terjajah.  Akibatnya isu melemahnya Rupiah terhadap US-Dollar jadi sangat sensitif.  Proyek-proyek Habibie di akhir tahun 1990-an, berantakan karena krisis moneter.  Sistem ekonomi kita sangat rentan, karena mudah terpengaruh gonjang-ganjing dunia, baik disengaja maupun tidak.  PLN kekurangan gas, karena gas kita terlanjur dibeli dengan kontrak jangka panjang dengan China.  Produk agro kita yang melimpah tidak punya nilai tawar yang tinggi di dunia.
Negara yang merdekanya sudah sampai level-4 dan 5, dapat dipastikan negara yang "produktif".  Mereka berada di jajaran negara maju dan kaya.  Contoh negara seperti ini adalah Korea Selatan, Jepang atau Jerman.  China dan India mungkin segera menyusul di level ini.

Level-6 merdeka, itu merdeka secara ideologis.  Ideologi itu mendorong sebuah negara menentukan sendiri jalan hidupnya, peradabannya, sosial-budayanya, juga mendorong mereka mempengaruhi negara-negara lain.  Negara yang seperti ini akan berkembang menjadi negara yang "powerful".  Contohnya saat ini jelas Amerika Serikat.  Di masa lalu juga Uni Soviet, Inggris dan Perancis.

Yang tertinggi adalah merdeka level-7.  Merdeka level-7 itu adalah ketika sebuah negara beserta rakyatnya hanya menghamba kepada Sang Pencipta saja (Allah swt), dan tidak menghamba ke sesama hamba, manusia, baik seorang diktator maupun secara demokratis.  Negara yang seperti ini akan berkembang dengan cepat menjadi negara yang profesional, produktif dan powerful. Negara yang pernah seperti ini hanya Negara Khilafah Islam.  Mereka bergerak ke barat dan ke timur untuk menyebarkan rahmat ke seluruh alam, bukan untuk menjajah.  Negara seperti inilah yang "berkah". 
Jadi, kalau dinilai dengan levelling ini, kita baru merdeka di level-1, dan mungkin sedang terengah-engah mencoba meraih merdeka di level-level berikutnya.  Semoga kita istiqomah dalam meraih cita-cita kemerdekaan yang hakiki, merdeka level-7.

Dikutip dari https://m.facebook.com/khilafaharts/

Selasa, 05 Juli 2016

Digiring kemana bola ini?



Peluit dimulai di negeri kiblat Islam Eropa, Turki
Ya disanalah bola ditendang, tanda kick off dimulai
Kemudian dioper ke negeri kiblat Muslim dunia, Arab Saudi
Yang sebelumnya bolanya dioper dulu di negeri yang katanya pusatnya teroris, Irak
Tak sampai disitu, ternyata bola terus digocek
Bola digiring terus ke arah timur
Tujuannya agar semua orang melihat
Media meliput
Ini bukan sembarang operan
Ini bukan sembarang gocekan
Ini bukan sembarang tendangan
Bola ini harus mengarah ke negeri paling banyak muslimnya
Kenapa?
Supaya penonton nya semakin banyak
Untungnya juga makin banyak
Tapi yang namanya otak kapitalis
Maka bagaimanapun caranya nggak boleh banyak keluar modal
Untung harus tetap optimal
Nah disitulah akhirnya bola ditendang
Yang penting banyak yang ngelihat
Yups, ditendanglah ke arah pusat keamanan
Biar dibilang, tempat yang aman aja kena tendang, apalagi yang nggak aman?
Berarti yang nendang bukan sembarang penendang
Wah hebat nih penendang
Media heboh, masyarakat heboh
Sesuai dengan target

Namanya aja tendangan teror
Jumlah korban mah nggak jadi soal
Yang penting masyarakat takut, kan itu tujuan teror
Ya udah, selamat untuk Indonesia yang nerima tendangan teror di akhir bulan suci
Lantas, kemana lagi bola akan ditendang???
#BerpikirKeras
#BerpikirSerius
#CatatanSeorangHabib

Jumat, 20 Mei 2016

#UdahTauSolusinya?

Dunia ini panggung sandiwara
Mereka muda berpura
Sebait lagu dari group band di negeri timur

"Panggung Sandiwara" siapa pemeran utamanya?

Menarik jika kita mau berpikir sedikit
Membuka mata melihat sekitar
Membuka hati menjauhkan diri dari sombong

Berapa tahun dunia diselimuti nestapa
Era perang senjata telah berakhir
Saatnya perang pemikiran
Perang ideologi

Sosialis Komunis telah jatuh sebelum milineum
Kapitalis menjadi penguasa tunggal
Dengan congkaknya memporak-porandakan negeri-negeri kecil tak berdosa
Dunia dijadikan permainan para kapitalis
Dari hulu sampai hilir
Dari yang masih bau kencur sampai yang bau tanah

Ketidakadilan jelas terlihat
Kemiskinan, ketertindasan, kemerosotan moral jangan ditutupi dengan janji palsu khas pemain film

Demokrasi seolah menjadi sistem dewa
Dianggap paling adil, baik dan bisa sejahtera
Sekali lagi buka mata dan pikiran jauhkan dari kesombongan
Itu semua hanya ilusi politikus cetakan kapitalis

Kini pemain tunggal tinggal menunggu ajal
Sosialis komunis coba dibangkitkan kembali
Sungguh wajara jika yang diketahui cuma hanya ada dua pemain tersebut

Tapi
Taukah dunia jika 14 silam telah ada Pemimpin adidaya yang tak tergantikan
13 abad menjadi pusat peradaban dunia
Dengan satu aturan, satu Ideologi

Hebatnya banyak negeri-negeri lain yang berbondong-bondong mencari tahu kenapa bisa demikian
Dikirimkan anak-anak mereka
Pemuda-pemuda mereka untuk belajar
Belajar dengan ideologi yang memberikan cahaya bagi dunia

Sudah taukah ideologi apa itu? Aturan apa itu?
Masih bingung? Atau pura-pura lupa?
Sungguh mata kita sepertinya telah ditutup rapat-rapat

Sesungguhnya kejayaan itu bukan demokrasi kapitalis
Bukan pula sosialis komunis
Tapi Islam
Islam
Islam
Dan Islam

Wahai para penguasa negeri-negeri kaum Muslim

Tinggalkan demokrasi dan anak-anaknya

Ganti dengan Islam, terapkan syariat dalam bingkai Khilafah 

Karena hanya Khilafah yang dapat wujudkan Islam Rahmatan lil 'Alamin

Malang, 21 Mei 2016

Mochamad Habib N Amali

#CatatanSeorangHabib

#SalamPerjuangan

Sabtu, 12 Maret 2016

Tapi Aku Memang Salah


Bukan jika aku punya salah
Tapi aku memang salah
Bukan jika aku mungkin khilaf
Tapi aku memang salah
Bukan karena aku ada marah
Tapi aku memang salah
Bukan karena aku mau mengalah
Tapi aku memang salah
Bukan karena aku meredakan ego
Tapi aku memang salah
Bukan jika aku mencari masalah
Tapi aku memang salah
Karena aku memang salah
Maka terimalah pengakuan salahku
Karena aku memang salah
Maka janganlah kau pinta lebih
Lebih dari apa yang aku mampu
Karena yang aku mampu hanya minta
Hanya minta
Minta maaf

Saudaramu, MH
Malang, 13 Maret 2016 di pagi hari di dalam ruangan 2,5 kali 2,5 dibawah temaram cahaya putih
Diberdayakan oleh Blogger.